Connect with us

Berita

Bangkit! Film Aksi Penyelamatan Bencana di Ibukota

Published

on

Jakarta, 18 Juli 2016Film Bangkit! karya Rako Prijanto dengan genre Action-Disaster pertama di Indonesia. Genre yang beda dengan genre film lainnya yang pernah dibuat. Melalui proses produksi yang canggih dan masif, didukung kekuatan cerita bermuatan pesan moral dan dengan mengerahkan kekuatan kolaborasi yang sangat baik antar berbagai pihak.

Dalam film ini menceritakan kerja keras Addri yang diperankan Vino G Bastian sebagai anggota Tim SAR beserta BMKG bekerja keras, tekad pantang menyerah dan pertaruhkan nyawa menyelamatkan masyarakat dan orang-orang yang mereka cintai dari bencana besar dan gempa bumi yang menutup seluruh akses kota, akibat badai musim dingin di benua Asia dan badai musim panas di benua Australia.

Menurut Vino G Bastian, film ini adalah film tersulit yang ia perankan, akan tetapi sebagai seorang aktor ia harus bisa keluar dari zona nyamannya sehingga ia harus banyak belajar peran-peran baru, ungkapnya usai Press Screening Film Bangkit! di Plaza Senayan.

“Film ini memberikan tantangan tersendiri bagi saya pribadi karena saya harus belajar dari TNI AL dan TNI AU secara profesional, agar dapat melakukan adegan menyelam di dalam air berkali-kali dan terjun dari helikopter sampai menghasilkan scene yang pas. Saya optimis film ini dapat hadir sebagai hiburan baru dengan kualitas yang patut untuk disimak masyarakat Indonesia” tambah Vino.

film bangkit

Acha Septriasa sebagai Denanda

Diakui oleh Acha Septriasa juga, bahwa proses syuting film Bangkit ini sebagai pengalaman yang tak terlupakan. “Hampir semua adegan berbahaya terasa nyata, membuat kami paham apa rasanya berada dalam situasi antara hidup dan mati. Saya menjalani proses syuting selama 57 hari yang berbeda-beda lokasi’.

Sebagai Sutradara, Rako Prijanto berharap film ini dapat menjadikan acuan bagi sineas Indonesia lainnya, mendrong mereka untuk keluar dari zona nyaman dan berani bereksperimen dalam jenis-jenis film lain yang belum tereksplorasi, serta menjadi dorongan bagi tumbuhnya penggunaan teknologi-teknologi film lainnya untuk mewujudkan gagasan dan mimpi tanpa batas.”Setiap adegan kami buat secara serius dan rinci agar menghasilkan tampilan senyata mungkin dengan kondisi alam yang ingin ditampilkan. Khusus adegan banjir, kami membuat water tank berukuran 200×100 m berisikan air yang diberi efek ombak dan jalur khusus untuk kamera, sehingga menghasilkan gambar yang konstan.”

film bangkit

Selain di Jakarta, film Bangkit! ini juga menggelar premier di Surabaya(17 Juli 2016), Makassar (21 Juli 2016), Medan (23 Juli 2016) dan Palembang (24 Juli 2016). OST film ini diisi oleh Nidji dengan judul Bangkit!.

Film Bangkit! ini akan tayang di bioskop mulai 28 Juli 2016 dengan beberapa peran pendukung lainnya seperti Donny Damara, Ferry Salim, Yasamin Jasem, Adriyan Bima, Khiva Iskak, dan Yayu Unru.

film bangkit

Berita

Daftar Lengkap Nominasi Festival Film Indonesia 2016

Published

on

By

Daftar Pemenang Festival Film Indonesia 2015

Sebelum malam puncak FFI 2016 digelar pada 6 November 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta panitia penyelenggara mengumumkan para nominasi Festival Film Indonesia 2016. Sebanyak 21 nominasi yang diumumkan, ada kategori nominasi baru yaitu nominasi kategori Lagu Tema Film Terbaik yang sebelumnya belum pernah ada penghargaan untuk mengisi OST dalam film. Berikut daftar lengkap nominasi Festival Film Indonesia 2016:

(lebih…)

Continue Reading

Berita

“Restorasi Film” Jadi Tema Festival Film Indonesia 2016

Published

on

By

Daftar Pemenang Festival Film Indonesia 2015

Jakarta, 21 September 2016 – Festival Film Indonesia (FFI) 2016 mengangkat ‘restorasi dan sensor’ sebagai tema besar dari pagelaran festival tersebut di tahun ini. Tema restorasi film diangkat melihat sistem pengarsipan film di Tanah Air yang masih jauh dari kata layak. Untuk membahas lebih jauh mengenai topik tersebut, Panitia FFI 2016 mengadakan diskusi dengan media di Foodism, Kemang, Jakarta.

Lukman Sardi, Ketua Panitia FFI 2016, mengatakan pagelaran FFI kali ini ingin kembali ke tujuan awal, yaitu sebagai bentuk apresiasi terhadap film-film terbaik karya anak bangsa. “Sejak awal FFI diadakan untuk menunjukkan ke publik bahwa film-film produksi Indonesia tidak kalah dengan film impor. Agar film Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Lukman dalam diskusi dengan media.

“Sayangnya, sistem pengarsipan yang buruk membuat banyak film-film klasik Indonesia yang rusak dan jadi tidak dapat ditonton. Hal ini sangat disayangkan mengingat film-film klasik tersebut merupakan potongan-potongan rekaman yang tersisa dari masanya dan akan selalu aktual untuk ditonton kembali, sebagai pesan dari generasi itu untuk generasi mendatang,” ujar Lukman.

Dia menambahkan upaya untuk merestorasi film-film Indonesia harus terus diapresiasi, dan sebagai perhelatan yang bertujuan untuk memajukan dunia perfilman Tanah Air, FFI bertanggungjawab untuk ikut aktif dalam upaya restorasi dan perbaikan sistem pengarsipan film nasional.

Lisabona Rahman, praktisi restorasi film, mengatakan film merupakan produk kebudayaan yang memiliki daya jangkau yang luar biasa. Dia percaya gambar gerak yang disertai suara, sebagai komponen utama dari film, perlu mendapat perhatian yang tidak kalah dengan buku maupun lukisan dalam pelestariannya.

“Di Amerika Serikat dan Eropa pun, film-film klasik tetap disimpan dengan baik dan dilestarikan. Film-film tersebut secara rutin diputar kembali untuk ditonton generasi muda disana,” ujar Lisabona.

Namun, upaya untuk merestorasi film klasik Indonesia tidak mudah. Hal ini disebabkan sistem pengarsipan yang buruk, sehingga gambar dari film lama yang disimpan dalam format pita seluloid sudah banyak yang rusak dan tidak layak tonton. Selain itu, biaya yang diperlukan untuk merestorasi satu film dari format seluloid ke format digital dengan kualtias gambar 4K mencapai Rp3,5 miliar.

“Tantangan tersebut tidak boleh menghentikan upaya kita untuk terus merestorasi film-film klasik Indonesia yang telah rusak dan tidak dapat ditonton. Selain itu, kita juga perlu mendorong pengembangan sistem pengarsipan film yang lebih baik. Sehingga film-film klasik yang telah direstorasi dan film-film lain yang dibuat saat ini, tetap dapat ditonton dengan kualitas gambar yang baik di tahun-tahun mendatang,” ujar Lisabona.

Continue Reading

Berita

Riri Riza Tampilkan Budaya Bugis di Film Athirah

Published

on

By

film athirah

Film Athirah diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Alberthiene Endah yang terinspirasi dari kisah nyata Ibunda Jusuf Kalla.

Athirah menggambarkan pergulatan seorang perempuan Bugis yang ingin mempertahankan keutuhan keluarganya saat pada perempuan lain memasuki kehidupan suaminya. Di saat yang sama, anak lelaki tertuanya yang masih remaja, Ucu mengalami kesulitan memahami Athirah dan konflik yang tengah terjadi di tengah keluarganya.

film athirah

Riri Riza dan Pemain Film Athirah

Di Sutradarai oleh Riri Riza yang merupakan orang Bugis Makassar yang akhirnya tertarik untuk membuat film ini karena memang Miles Film belum pernah membuat film dengan latar belakang budaya Bugis. “Suatu kesempatan yang sulit sekali saya tolak, saya merasa sangat terhormat berkesempatan kembali ke tempat saya berasal yang dekat sekali dengan saya akhirnya datang film Athirah ini. Bugis Makassar ini sebuah kebudayaan yang unik, punya karakteristik mungkin disamaratakan dengan budaya yang keras, sebenarnya budaya Bugis Makassar itu kompleks dan banyak keindahan kalau mau melihatnya dengan jarak langkah saja, mulai dari dapur, ruang makan dan kamar orang tua. Disitulah sebenarnya kita bisa melihat seperti apa orang Bugis Makassar.”ungkap Riri Riza saat Press conference peluncuran Video Clip OST film Athirah di Senopati Gallery.

film athirah

Cut Mini berperan sebagai Athirah

Sebagai sosok yang memerankan Athirah, Cut mini merasakan cerita ini penuh dengan emosional. “Athirah itu memiliki ekstra sabar sangat dahsyat, begitulah wanita dan begitu yang saya rasakan. Kayaknya saya juga harus lebih sabar. Pokoknya seperti yang tadi dibilang. Athirah selalu menutupi apapun yang dia rasakan. Yang penting anak-anak makan enak, bahagia. Biar yang lainnya Athirah yang urus,” ungkap Cut Mini.

Film Athirah ini diperankan beberapa artis, diantaranya Chistoffer Nelwan, Tika Bravani, Nino Prabowo, Jajang C Noer dan Miles Film juga melibatkan talenta-talenta dari Sulawesi Selatan dalam film ini, baik kru produksi atau jadi pemain.

Film ini akan tayang 29 September 2016 di bioskop.

film athirah

Continue Reading

Trending