Connect with us

Berita

Samsung SUHD TV Hadir di Malam Puncak FFI 2015

Published

on

Samsung SUHD TV bangga telah mendukung Festival Film Indonesia 2015 sebagai festival film terbesar di Indonesia. Kontribusi nyata Samsung diwujudkan melalui inovasi terdepan Samsung SUHD TV yang menghadirkan gambar spektakuler untuk mengoptimalkan proses penjurian FFI ke arah lebih baik. Teknologi Nano Crystal pada Samsung SUHD TV dapat kebutuhan dewan juri untuk menjalankan proses seleksi film terbaik dengan lebih detail. Samsung mendukung industri perfilman Indonesia dan mendorong masyarakat bangga dan memberikan perubahan positif melalui inovasi teknologi televisi.

Foto samsung suhd anie baswedan

Mr. Lee Kang Hyun, Vice President PT. Samsung Electronics Indonesia (SEIN) mengajak Anies Baswedan,Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Jo Semidang, Consumer Electronics Director PT SEIN berfoto bersama

panitia ffi 2015

Jajaran Panitia Festival Film Indonesia 2015 (dari kiri ke kanan) Robby Ertanto, Ketua Bidang Acara, Lukman Sardi, Ketua Bidang Media dan Publikasi, Jajang C. Noer, Ketua Bidan Penjurian dan Olga Lydia, Ketua Pelaksana Festival Film Indonesia 2015 turut memeriahkan photo-booth Samsung SUHD TV.

Setelah mendukung proses seleksi berbagai kategori nominasi film terbaik, Samsung pun turut hadir memeriahkan malam penghargaan Festival Film Indonesia 2015 dengan menghadirkan inovasi teknologi Samsung SUHD TV ke tengah-tengah perayaan kemenangan para peraih penghargaan Festival Film terbesar di Indonesia.  Melalui keunggulan kualitas gambar, Samsung SUHD TV dapat menampilkan kualitas terbaik dalam film Indonesia, sehingga masyarakat Indonesia tak hanya dapat makin mencintai namun juga bangga akan film Indonesia.

pemain dan kru a copy of my mind

Para pemain dan kru film ‘ A Copy of Mind’, peraih nominasi film terbaik Festival Film Indonesia 2015 meramaikan photo booth Samsung SUHD TV di ICE, BSD, Tangerang, Banten saat malam penghargaan FFI 2015.

pemain dan kru toba dream

Para pemain dan kru film ‘Toba Dreams’, peraih nominasi film terbaik Festival Film Indonesia 2015 meramaikanphoto booth Samsung SUHD TV di ICE, BSD, Tangerang, Banten saat malam penghargaan FFI 2015.

Sebagai pemimpin terdepan di bidang teknologi, Samsung SUHD TV turut memeriahkan malam penghargaan Festival Indonesia 2015. Kontribusi Samsung dalam penjurian nominasi film terbaik FFI 2015 mendukung kemajuan industri perfilman Indonesia. Keterlibatan Samsung SUHD TV dalam pelaksanaan FFI 2015 diharapkan memberikan inspirasi kepada masyarakat Indonesia, untuk makin bangga akan film Indonesia dan mengapresiasi insan perfilman tanah air.

pemain toba dream

Pasangan Publik Figur Marsha Timothy, Peraih Nominasi Pemeran Wanita Terbaik dan Vino G. Bastian, Peraih Nominasi Pemeran Pria Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2015, turut meramaikan photo booth Samsung SUHD TV.

 

Continue Reading
Click to comment

Berita

Daftar Lengkap Nominasi Festival Film Indonesia 2016

Published

on

By

Daftar Pemenang Festival Film Indonesia 2015

Sebelum malam puncak FFI 2016 digelar pada 6 November 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta panitia penyelenggara mengumumkan para nominasi Festival Film Indonesia 2016. Sebanyak 21 nominasi yang diumumkan, ada kategori nominasi baru yaitu nominasi kategori Lagu Tema Film Terbaik yang sebelumnya belum pernah ada penghargaan untuk mengisi OST dalam film. Berikut daftar lengkap nominasi Festival Film Indonesia 2016:

(lebih…)

Continue Reading

Berita

“Restorasi Film” Jadi Tema Festival Film Indonesia 2016

Published

on

By

Daftar Pemenang Festival Film Indonesia 2015

Jakarta, 21 September 2016 – Festival Film Indonesia (FFI) 2016 mengangkat ‘restorasi dan sensor’ sebagai tema besar dari pagelaran festival tersebut di tahun ini. Tema restorasi film diangkat melihat sistem pengarsipan film di Tanah Air yang masih jauh dari kata layak. Untuk membahas lebih jauh mengenai topik tersebut, Panitia FFI 2016 mengadakan diskusi dengan media di Foodism, Kemang, Jakarta.

Lukman Sardi, Ketua Panitia FFI 2016, mengatakan pagelaran FFI kali ini ingin kembali ke tujuan awal, yaitu sebagai bentuk apresiasi terhadap film-film terbaik karya anak bangsa. “Sejak awal FFI diadakan untuk menunjukkan ke publik bahwa film-film produksi Indonesia tidak kalah dengan film impor. Agar film Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Lukman dalam diskusi dengan media.

“Sayangnya, sistem pengarsipan yang buruk membuat banyak film-film klasik Indonesia yang rusak dan jadi tidak dapat ditonton. Hal ini sangat disayangkan mengingat film-film klasik tersebut merupakan potongan-potongan rekaman yang tersisa dari masanya dan akan selalu aktual untuk ditonton kembali, sebagai pesan dari generasi itu untuk generasi mendatang,” ujar Lukman.

Dia menambahkan upaya untuk merestorasi film-film Indonesia harus terus diapresiasi, dan sebagai perhelatan yang bertujuan untuk memajukan dunia perfilman Tanah Air, FFI bertanggungjawab untuk ikut aktif dalam upaya restorasi dan perbaikan sistem pengarsipan film nasional.

Lisabona Rahman, praktisi restorasi film, mengatakan film merupakan produk kebudayaan yang memiliki daya jangkau yang luar biasa. Dia percaya gambar gerak yang disertai suara, sebagai komponen utama dari film, perlu mendapat perhatian yang tidak kalah dengan buku maupun lukisan dalam pelestariannya.

“Di Amerika Serikat dan Eropa pun, film-film klasik tetap disimpan dengan baik dan dilestarikan. Film-film tersebut secara rutin diputar kembali untuk ditonton generasi muda disana,” ujar Lisabona.

Namun, upaya untuk merestorasi film klasik Indonesia tidak mudah. Hal ini disebabkan sistem pengarsipan yang buruk, sehingga gambar dari film lama yang disimpan dalam format pita seluloid sudah banyak yang rusak dan tidak layak tonton. Selain itu, biaya yang diperlukan untuk merestorasi satu film dari format seluloid ke format digital dengan kualtias gambar 4K mencapai Rp3,5 miliar.

“Tantangan tersebut tidak boleh menghentikan upaya kita untuk terus merestorasi film-film klasik Indonesia yang telah rusak dan tidak dapat ditonton. Selain itu, kita juga perlu mendorong pengembangan sistem pengarsipan film yang lebih baik. Sehingga film-film klasik yang telah direstorasi dan film-film lain yang dibuat saat ini, tetap dapat ditonton dengan kualitas gambar yang baik di tahun-tahun mendatang,” ujar Lisabona.

Continue Reading

Berita

Riri Riza Tampilkan Budaya Bugis di Film Athirah

Published

on

By

film athirah

Film Athirah diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Alberthiene Endah yang terinspirasi dari kisah nyata Ibunda Jusuf Kalla.

Athirah menggambarkan pergulatan seorang perempuan Bugis yang ingin mempertahankan keutuhan keluarganya saat pada perempuan lain memasuki kehidupan suaminya. Di saat yang sama, anak lelaki tertuanya yang masih remaja, Ucu mengalami kesulitan memahami Athirah dan konflik yang tengah terjadi di tengah keluarganya.

film athirah

Riri Riza dan Pemain Film Athirah

Di Sutradarai oleh Riri Riza yang merupakan orang Bugis Makassar yang akhirnya tertarik untuk membuat film ini karena memang Miles Film belum pernah membuat film dengan latar belakang budaya Bugis. “Suatu kesempatan yang sulit sekali saya tolak, saya merasa sangat terhormat berkesempatan kembali ke tempat saya berasal yang dekat sekali dengan saya akhirnya datang film Athirah ini. Bugis Makassar ini sebuah kebudayaan yang unik, punya karakteristik mungkin disamaratakan dengan budaya yang keras, sebenarnya budaya Bugis Makassar itu kompleks dan banyak keindahan kalau mau melihatnya dengan jarak langkah saja, mulai dari dapur, ruang makan dan kamar orang tua. Disitulah sebenarnya kita bisa melihat seperti apa orang Bugis Makassar.”ungkap Riri Riza saat Press conference peluncuran Video Clip OST film Athirah di Senopati Gallery.

film athirah

Cut Mini berperan sebagai Athirah

Sebagai sosok yang memerankan Athirah, Cut mini merasakan cerita ini penuh dengan emosional. “Athirah itu memiliki ekstra sabar sangat dahsyat, begitulah wanita dan begitu yang saya rasakan. Kayaknya saya juga harus lebih sabar. Pokoknya seperti yang tadi dibilang. Athirah selalu menutupi apapun yang dia rasakan. Yang penting anak-anak makan enak, bahagia. Biar yang lainnya Athirah yang urus,” ungkap Cut Mini.

Film Athirah ini diperankan beberapa artis, diantaranya Chistoffer Nelwan, Tika Bravani, Nino Prabowo, Jajang C Noer dan Miles Film juga melibatkan talenta-talenta dari Sulawesi Selatan dalam film ini, baik kru produksi atau jadi pemain.

Film ini akan tayang 29 September 2016 di bioskop.

film athirah

Continue Reading

Trending