Connect with us

Berita

Stay With Me, Sebuah Film Tentang Keintiman

Published

on

 

Jakarta, Indosinema.com – 14 tahun lalu adalah hari yang sangat bersejarah bagi dunia perfilman Indonesia. Melalui sebuah film drama cinta berjudul Ada Apa Dengan Cinta?, Indonesia kembali memiliki keyakinan kuat bahwa filmmaker dalam negeri akan kembali berjaya.

Dibalik salah satu kesuksesan film tersebut kita mengenal sebuah nama yang tidak asing lagi dalam genre drama cinta, Rudi Soedjarwo. Dengan tangan dinginnya, bukan hanya filmnya yang menonjol ke publik, tapi juga para pemerannya yang menikmati buah hasil kesuksesan tersebut. Tahun 2015 ini, Rudi Soedjarwo kembali menyuguhkan sebuah film drama cinta untuk penonton Indonesia.

Untuk menjawab rasa rindu pada film Indonesia yang berkualitas sekaligus mengandung informasi, pengalaman real dan pengetahuan di dalamnya. Rudi Soedjarwo, pada tahun ini memproduksi sebuah film bergenre drama cinta berjudul Stay With Me.

Stay With Me adalah sebuah film yang diperankan oleh Boy William dan Ully Triani. Film ini bercerita tentang kebahagiaan sekaligus kesedihan yang selalu ada dalam setiap bahtera rumah tangga.

Tak banyak film cinta yang memfokuskan alur cerita pada kisah sepasang suami istri dan kemelut kehidupannya. Melalui film ini, Rudi Soedjarwo ingin menegaskan bahwa film cinta juga bisa diaplikasikan pada usia non-remaja. Film yang akan mulai tayang pada 12 November 2015 ini bisa dinikmati oleh mereka yang sudah menikah, pernah mengalami perceraian, sedang dalam tahap krisis kepercayaan dengan pasangan, sedang akan menikah dan atau mereka yang baru menemukan jodohnya.

Stay With Me, bisa jadi merupakan kisah nyata bagi bukan hanya seseorang. Tapi, kisah nyata bagi ribuah bahkan jutaan pasangan menikah yang tersebar luas di negara ini.

Film yang berhasil diproduksi atas dasar kegelisahan Rudi Soedjarwo ini, diramalkan akan membuat jutaan mata penonton mengeluarkan air mata. Melalui treatment-nya yang sangat personal kepada pemain dan keunikan gayanya dalam men-direct, film ini bukan hanya akan menjadi hiburan semata, melainkan pengalaman utuh tentang kemelut sebuah keluarga yang akan menjadi pembelajaran bagi siapa pun yang menontonnya.

Rudi Soedjarwo mengungkapkan bahwa film Stay With Me seperti sebuah buku harian bagi dirinya dan sebagian orang yang mengalami hal serupa. Baginya, film ini adalah buku harian berbentuk visual yang didukung oleh acting, sound, music scoring dan sebagainya. Rudi Soedjarwo menaruh harapan besar bagi mereka yang menonton film ini agar memiliki pandangan luas tentang arti sebuah pernikahan tanpa unsur menggurui. Harapan akan datangnya hari baik bagi siapa saja yang pernah atau sedang akan mengalami hal yang terpapar dalam film Stay With Me.

Stay With Me bagaikan sebuah ilmu rumit dalam pernikahan yang kemudian disederhanakan dalam formula berbentuk katalog agar kita bisa mempelajari tentang keintiman dalam sebuah hubungan berkeluarga.

Dalam film Stay With Me, Rudi Soedjarwo meletakkan banyak unsur pengalaman sekaligus pengetahuan bagi mereka yang menontonnya. Seperti yang telah disebutkan di atas, jika film adalah sebuah buku harian yang berbentuk visual, maka film adalah sebuah rahasia dari pengalaman salah satu di antara kita yang dimunculkan ke publik sebagai pembelajaran.

Sebelum tanggal penayangan film yang direncanakan akan tayang pada 12 November 2015, Rudi Soedjarwo lewat akun twitternya @RudiSoedjarwo dan @staywithme_film mem-publish video, trailer, webseries, soundtrack dan foto-foto yang berkaitan dengan film. Akhirnya, Stay With Me adalah tentang mendapat pengalaman baru dan apa pun itu, Anda sendiri yang akan berbicara setelah Stay With Me menjadi bagian dari hidup Anda saat 12 November nanti. 

Sampai jumpa di hari yang akan menjadi sejarah Anda.

Executive Producer: Rosa Rai Djalal

Producer: Rudi Soedjarwo, Tyas Abiyoga & Aulia Mahariza

Writer & Director: Rudi Soedjarwo

DOP: Arfian

Chief Lighting: Teguh Makho

Production Designer: Yudi Maryadi

Music Composer: Andi Rianto

Continue Reading
Click to comment

Berita

Daftar Lengkap Nominasi Festival Film Indonesia 2016

Published

on

By

Daftar Pemenang Festival Film Indonesia 2015

Sebelum malam puncak FFI 2016 digelar pada 6 November 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta panitia penyelenggara mengumumkan para nominasi Festival Film Indonesia 2016. Sebanyak 21 nominasi yang diumumkan, ada kategori nominasi baru yaitu nominasi kategori Lagu Tema Film Terbaik yang sebelumnya belum pernah ada penghargaan untuk mengisi OST dalam film. Berikut daftar lengkap nominasi Festival Film Indonesia 2016:

(lebih…)

Continue Reading

Berita

“Restorasi Film” Jadi Tema Festival Film Indonesia 2016

Published

on

By

Daftar Pemenang Festival Film Indonesia 2015

Jakarta, 21 September 2016 – Festival Film Indonesia (FFI) 2016 mengangkat ‘restorasi dan sensor’ sebagai tema besar dari pagelaran festival tersebut di tahun ini. Tema restorasi film diangkat melihat sistem pengarsipan film di Tanah Air yang masih jauh dari kata layak. Untuk membahas lebih jauh mengenai topik tersebut, Panitia FFI 2016 mengadakan diskusi dengan media di Foodism, Kemang, Jakarta.

Lukman Sardi, Ketua Panitia FFI 2016, mengatakan pagelaran FFI kali ini ingin kembali ke tujuan awal, yaitu sebagai bentuk apresiasi terhadap film-film terbaik karya anak bangsa. “Sejak awal FFI diadakan untuk menunjukkan ke publik bahwa film-film produksi Indonesia tidak kalah dengan film impor. Agar film Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Lukman dalam diskusi dengan media.

“Sayangnya, sistem pengarsipan yang buruk membuat banyak film-film klasik Indonesia yang rusak dan jadi tidak dapat ditonton. Hal ini sangat disayangkan mengingat film-film klasik tersebut merupakan potongan-potongan rekaman yang tersisa dari masanya dan akan selalu aktual untuk ditonton kembali, sebagai pesan dari generasi itu untuk generasi mendatang,” ujar Lukman.

Dia menambahkan upaya untuk merestorasi film-film Indonesia harus terus diapresiasi, dan sebagai perhelatan yang bertujuan untuk memajukan dunia perfilman Tanah Air, FFI bertanggungjawab untuk ikut aktif dalam upaya restorasi dan perbaikan sistem pengarsipan film nasional.

Lisabona Rahman, praktisi restorasi film, mengatakan film merupakan produk kebudayaan yang memiliki daya jangkau yang luar biasa. Dia percaya gambar gerak yang disertai suara, sebagai komponen utama dari film, perlu mendapat perhatian yang tidak kalah dengan buku maupun lukisan dalam pelestariannya.

“Di Amerika Serikat dan Eropa pun, film-film klasik tetap disimpan dengan baik dan dilestarikan. Film-film tersebut secara rutin diputar kembali untuk ditonton generasi muda disana,” ujar Lisabona.

Namun, upaya untuk merestorasi film klasik Indonesia tidak mudah. Hal ini disebabkan sistem pengarsipan yang buruk, sehingga gambar dari film lama yang disimpan dalam format pita seluloid sudah banyak yang rusak dan tidak layak tonton. Selain itu, biaya yang diperlukan untuk merestorasi satu film dari format seluloid ke format digital dengan kualtias gambar 4K mencapai Rp3,5 miliar.

“Tantangan tersebut tidak boleh menghentikan upaya kita untuk terus merestorasi film-film klasik Indonesia yang telah rusak dan tidak dapat ditonton. Selain itu, kita juga perlu mendorong pengembangan sistem pengarsipan film yang lebih baik. Sehingga film-film klasik yang telah direstorasi dan film-film lain yang dibuat saat ini, tetap dapat ditonton dengan kualitas gambar yang baik di tahun-tahun mendatang,” ujar Lisabona.

Continue Reading

Berita

Riri Riza Tampilkan Budaya Bugis di Film Athirah

Published

on

By

film athirah

Film Athirah diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Alberthiene Endah yang terinspirasi dari kisah nyata Ibunda Jusuf Kalla.

Athirah menggambarkan pergulatan seorang perempuan Bugis yang ingin mempertahankan keutuhan keluarganya saat pada perempuan lain memasuki kehidupan suaminya. Di saat yang sama, anak lelaki tertuanya yang masih remaja, Ucu mengalami kesulitan memahami Athirah dan konflik yang tengah terjadi di tengah keluarganya.

film athirah

Riri Riza dan Pemain Film Athirah

Di Sutradarai oleh Riri Riza yang merupakan orang Bugis Makassar yang akhirnya tertarik untuk membuat film ini karena memang Miles Film belum pernah membuat film dengan latar belakang budaya Bugis. “Suatu kesempatan yang sulit sekali saya tolak, saya merasa sangat terhormat berkesempatan kembali ke tempat saya berasal yang dekat sekali dengan saya akhirnya datang film Athirah ini. Bugis Makassar ini sebuah kebudayaan yang unik, punya karakteristik mungkin disamaratakan dengan budaya yang keras, sebenarnya budaya Bugis Makassar itu kompleks dan banyak keindahan kalau mau melihatnya dengan jarak langkah saja, mulai dari dapur, ruang makan dan kamar orang tua. Disitulah sebenarnya kita bisa melihat seperti apa orang Bugis Makassar.”ungkap Riri Riza saat Press conference peluncuran Video Clip OST film Athirah di Senopati Gallery.

film athirah

Cut Mini berperan sebagai Athirah

Sebagai sosok yang memerankan Athirah, Cut mini merasakan cerita ini penuh dengan emosional. “Athirah itu memiliki ekstra sabar sangat dahsyat, begitulah wanita dan begitu yang saya rasakan. Kayaknya saya juga harus lebih sabar. Pokoknya seperti yang tadi dibilang. Athirah selalu menutupi apapun yang dia rasakan. Yang penting anak-anak makan enak, bahagia. Biar yang lainnya Athirah yang urus,” ungkap Cut Mini.

Film Athirah ini diperankan beberapa artis, diantaranya Chistoffer Nelwan, Tika Bravani, Nino Prabowo, Jajang C Noer dan Miles Film juga melibatkan talenta-talenta dari Sulawesi Selatan dalam film ini, baik kru produksi atau jadi pemain.

Film ini akan tayang 29 September 2016 di bioskop.

film athirah

Continue Reading

Trending