Connect with us

Berita

Cinta Selamanya : Pencarian dan Perjalanan Epik Sebuah Kehidupan

Published

on

cinta selamanya

Jakarta, 22 April 2015 – Diangkat dari buku laris “Fira dan Hafez”, film CINTA SELAMANYA berkisah tentang pencarian dan perjalanan epik setiap insan manusia: cinta. Dan ini adalah kisah nyata Fira Basuki, pemimpin redaksi majalah wanita kelas atas yang ternyata dengan status janda beranak satu, tak mudah untuk mendapatkan pendamping hidup. Banyak lelaki yang datang dan pergi. Tak satu pun yang lulus bertahan. Fira merasa hidupnya bahagia dengan SYAZA, putrinya. Bila pun ada sosok lelaki yang kelak menjadi pendamping, Fira ingin lelaki itu menjadi cinta selamanya.

Hingga suatu hari Fira ditakdirkan bertemu dengan HAFEZ, lelaki berumur sebelas tahun lebih muda darinya. Sekuat apapun Fira membentengi hatinya, sejutek apapun perlakuannya pada Hafez, tidak membuat Hafez mundur selangkah pun. Hafez dengan segala kecuekan dan kesederhanaannya mampu membuat guncangan pada keseharian Fira yang rapi dan perfeksionis. Kenekadan Hafez membuat Fira merasadiistimewakan. Kesungguhan Hafez membuat Fira percaya. Keakraban Hafez dengan Syaza membuat Fira teryakinkan. Dan memang Hafez Baskoro adalah the one, suami yang bersamanya kehidupan rumah tangga begitu bahagia bagi Fira apalagi tak lama setelah menikah Fira hamil.

cinta selamanya

Hingga suatu waktu Fira harus berangkat ke Madrid Spanyol untuk tugas kantor lalu melanjutkan perjalanan ke Barcelona, Toledo, Roma dan Paris. Fira merasa bahagia karena Hafez selalu menemaninya, menggenggam tangannya, memeluknya, menciumnya. Sepertinya Hafez menggenapi janji yang pernah terucap…

CINTA SELAMANYA menampilkan pasangan suami-istri Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan yang berperan sebagai Hafez dan Fira, digarap oleh pasangan suami-istri sutradara dan produser, Fajar Nugros dan Susanti Dewi. “Adalah pengalaman dan kehormatan yang luar biasa istimewa bagi saya dan Rio untuk menjadi pemeran utama di film ini karena CINTA SELAMANYA adalah kisah yang begitu personal dari seorang Fira Basuki dimana butuh keberanian dan ketegaran luar biasa untuk bisa menuliskannya untuk berbagi dan menjadi inspirasi,” ujar Atiqah. Duet akting mumpuni Atiqah dan Rio dalam film ini membuat penonton merasakan begitu dekat dengan apa yang dirasakan karakter-karakternya. “Dukungan mbak Fira dan keluarga sungguh luar biasa. Dia tidak keberatan diikuti Atiqah seharian, membuka rumahnya dan rumah keluarga Hafez untuk kami. Kami tentunya banyak berdiskusi baik dengan mbak Fira maupun keluarganya. Saya bahkan dipinjamkan laptop Hafez dimana saya bisa mengakses foto-foto dan video-video agar saya bisa mendalami karakter dan gerak-gerik Hafez,” papar Rio.

Sutradara film-film laris (Bajaj Bajuri the movie, Refrain, Cinta Brontosaurus), Fajar Nugros berhasil menterjemahkan kisah cinta dewasa ini lewat bahasa sinematografi yang indah dan kaya yang menyentuh penonton di kedalaman perasaan pada sisi romantis sekaligus mengharu-biru. Alur cerita dalam film dengan apik membawa penonton untuk mengalir dan merasakan dengan begitu dekat perjalanan kisah kasih Fira dan Hafez. “Ini adalah karya perdana kami dari Demi Istri Production, sehingga kami memang all out karena CINTA SELAMANYA menjadi benchmark bagi rumah produksi kami,” jelas Susanti Dewi.

Tentu proses produksi film ini tidak akan berjalan baik tanpa dukungan dari sponsor utama kami, Wardah Cosmetics. Berada di bawah payung PT. Paragon Technology Innovation, brand kosmetik tersebut selalu setia dalam mendukung perfilman nasional. “Kami berharap agar dukungan ini dapat memajukan dunia perfilman di Indonesia dan melalui film ini dapat menginspirasikan Wanita Indonesia,” kata Salman Subakat, Direktur Pemasaran Wardah Cosmetics.
Bersama dengan para sponsor pendukung seperti Samsung, Sensitif, dan Bank BNI, Wardah Cosmetics pun berharap agar kerjasama mereka dengan Demi Istri Production dapat berlanjut hingga masa-masa mendatang.

“Menonton film ini, begitu overwhelming buat saya. Apalagi dengan adanya insert twit-twit saya dan Hafez, saya pikir itu semua sudah lenyap dari linimasa.
Akting Rio sungguh luar biasa, saya seperti melihat Hafez… Terima kasih atas kerja terbaik dari semuanya untuk film ini: para pemain dan kru, sutradara dan produser,” tutur Fira Basuki Baskoro.

Untuk bisa memahami maksud overwhelming Fira Basuki, membuktikan akting piawai para pemain (selain Rio dan Atiqah, diantaranya juga Widi Mulia, Shalom Razade, Nungki Kusumastuti, Amanda Soekasah, Janna Joesof, Tio Pakusadewo, Dewi Irawan, dan Tantry Agung Dewani), sinematografi apik dan alur cerita yang mengalir, silakan tonton film CINTA SELAMANYA mulai 30 April di bioskop Indonesia.

Karena cinta adalah pencarian dan perjalanan epik kehidupan setiap insan di bumi ini.

Continue Reading
Click to comment

Berita

Daftar Lengkap Nominasi Festival Film Indonesia 2016

Published

on

By

Daftar Pemenang Festival Film Indonesia 2015

Sebelum malam puncak FFI 2016 digelar pada 6 November 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta panitia penyelenggara mengumumkan para nominasi Festival Film Indonesia 2016. Sebanyak 21 nominasi yang diumumkan, ada kategori nominasi baru yaitu nominasi kategori Lagu Tema Film Terbaik yang sebelumnya belum pernah ada penghargaan untuk mengisi OST dalam film. Berikut daftar lengkap nominasi Festival Film Indonesia 2016:

(lebih…)

Continue Reading

Berita

“Restorasi Film” Jadi Tema Festival Film Indonesia 2016

Published

on

By

Daftar Pemenang Festival Film Indonesia 2015

Jakarta, 21 September 2016 – Festival Film Indonesia (FFI) 2016 mengangkat ‘restorasi dan sensor’ sebagai tema besar dari pagelaran festival tersebut di tahun ini. Tema restorasi film diangkat melihat sistem pengarsipan film di Tanah Air yang masih jauh dari kata layak. Untuk membahas lebih jauh mengenai topik tersebut, Panitia FFI 2016 mengadakan diskusi dengan media di Foodism, Kemang, Jakarta.

Lukman Sardi, Ketua Panitia FFI 2016, mengatakan pagelaran FFI kali ini ingin kembali ke tujuan awal, yaitu sebagai bentuk apresiasi terhadap film-film terbaik karya anak bangsa. “Sejak awal FFI diadakan untuk menunjukkan ke publik bahwa film-film produksi Indonesia tidak kalah dengan film impor. Agar film Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Lukman dalam diskusi dengan media.

“Sayangnya, sistem pengarsipan yang buruk membuat banyak film-film klasik Indonesia yang rusak dan jadi tidak dapat ditonton. Hal ini sangat disayangkan mengingat film-film klasik tersebut merupakan potongan-potongan rekaman yang tersisa dari masanya dan akan selalu aktual untuk ditonton kembali, sebagai pesan dari generasi itu untuk generasi mendatang,” ujar Lukman.

Dia menambahkan upaya untuk merestorasi film-film Indonesia harus terus diapresiasi, dan sebagai perhelatan yang bertujuan untuk memajukan dunia perfilman Tanah Air, FFI bertanggungjawab untuk ikut aktif dalam upaya restorasi dan perbaikan sistem pengarsipan film nasional.

Lisabona Rahman, praktisi restorasi film, mengatakan film merupakan produk kebudayaan yang memiliki daya jangkau yang luar biasa. Dia percaya gambar gerak yang disertai suara, sebagai komponen utama dari film, perlu mendapat perhatian yang tidak kalah dengan buku maupun lukisan dalam pelestariannya.

“Di Amerika Serikat dan Eropa pun, film-film klasik tetap disimpan dengan baik dan dilestarikan. Film-film tersebut secara rutin diputar kembali untuk ditonton generasi muda disana,” ujar Lisabona.

Namun, upaya untuk merestorasi film klasik Indonesia tidak mudah. Hal ini disebabkan sistem pengarsipan yang buruk, sehingga gambar dari film lama yang disimpan dalam format pita seluloid sudah banyak yang rusak dan tidak layak tonton. Selain itu, biaya yang diperlukan untuk merestorasi satu film dari format seluloid ke format digital dengan kualtias gambar 4K mencapai Rp3,5 miliar.

“Tantangan tersebut tidak boleh menghentikan upaya kita untuk terus merestorasi film-film klasik Indonesia yang telah rusak dan tidak dapat ditonton. Selain itu, kita juga perlu mendorong pengembangan sistem pengarsipan film yang lebih baik. Sehingga film-film klasik yang telah direstorasi dan film-film lain yang dibuat saat ini, tetap dapat ditonton dengan kualitas gambar yang baik di tahun-tahun mendatang,” ujar Lisabona.

Continue Reading

Berita

Riri Riza Tampilkan Budaya Bugis di Film Athirah

Published

on

By

film athirah

Film Athirah diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Alberthiene Endah yang terinspirasi dari kisah nyata Ibunda Jusuf Kalla.

Athirah menggambarkan pergulatan seorang perempuan Bugis yang ingin mempertahankan keutuhan keluarganya saat pada perempuan lain memasuki kehidupan suaminya. Di saat yang sama, anak lelaki tertuanya yang masih remaja, Ucu mengalami kesulitan memahami Athirah dan konflik yang tengah terjadi di tengah keluarganya.

film athirah

Riri Riza dan Pemain Film Athirah

Di Sutradarai oleh Riri Riza yang merupakan orang Bugis Makassar yang akhirnya tertarik untuk membuat film ini karena memang Miles Film belum pernah membuat film dengan latar belakang budaya Bugis. “Suatu kesempatan yang sulit sekali saya tolak, saya merasa sangat terhormat berkesempatan kembali ke tempat saya berasal yang dekat sekali dengan saya akhirnya datang film Athirah ini. Bugis Makassar ini sebuah kebudayaan yang unik, punya karakteristik mungkin disamaratakan dengan budaya yang keras, sebenarnya budaya Bugis Makassar itu kompleks dan banyak keindahan kalau mau melihatnya dengan jarak langkah saja, mulai dari dapur, ruang makan dan kamar orang tua. Disitulah sebenarnya kita bisa melihat seperti apa orang Bugis Makassar.”ungkap Riri Riza saat Press conference peluncuran Video Clip OST film Athirah di Senopati Gallery.

film athirah

Cut Mini berperan sebagai Athirah

Sebagai sosok yang memerankan Athirah, Cut mini merasakan cerita ini penuh dengan emosional. “Athirah itu memiliki ekstra sabar sangat dahsyat, begitulah wanita dan begitu yang saya rasakan. Kayaknya saya juga harus lebih sabar. Pokoknya seperti yang tadi dibilang. Athirah selalu menutupi apapun yang dia rasakan. Yang penting anak-anak makan enak, bahagia. Biar yang lainnya Athirah yang urus,” ungkap Cut Mini.

Film Athirah ini diperankan beberapa artis, diantaranya Chistoffer Nelwan, Tika Bravani, Nino Prabowo, Jajang C Noer dan Miles Film juga melibatkan talenta-talenta dari Sulawesi Selatan dalam film ini, baik kru produksi atau jadi pemain.

Film ini akan tayang 29 September 2016 di bioskop.

film athirah

Continue Reading

Trending