Connect with us

Review

Review Film 3 Dara

Published

on

film 3 dara

3 Dara adalah sebuah film tentang tiga pria yang mengalami perubahan sikap seperti seorang dara. Kisah berawal ketika Affandi (Tora Sudiro), Jay (Adipati Dolken) dan  Richard (Tanta Ginting) yang disumpahi oleh wanita yang mereka goda. 

Ketiganya berubah menjadi lebih sensitif dan empati terhadap wanita. Juga berubah karakter menjadi perempuan dari sisi perasaan dan naluri mereka.

Dari segi karakter, Tora sudiro, Adipati Dolken dan Tanta Ginting cocok memerankan karakter dalam film ini. Mereka yang gagah dengan seketika bisa berubah menjadi dara yang lebih sensitif dan lebih mengerti perempuan. Apalagi, genre film ini drama komedi yang absurd yang tak perlu lagi mereka mendalami karakter yang benar-benar absurd.

Richard, Jay dan Affandi pemeran 3 DARA ([email protected]_Movie)

Selain itu, pemeran pendukung seperti Rianti sebagai dokter Windhy yang menjadi peran penting juga dalam film komedi ini. Tak seperti film Indonesia lainnya, jalan cerita yang mengalir dan tak mudah ditebak hingga akhir cerita. Kejutan-kejutan diakhir cerita dan penyelesaian masalah dalam cerita dikemas dengan sangat apik dan tak menghilangkan unsur komedi.

Pemain 3 DARA ([email protected]_Movie)

MNC Pictures terus berupaya memberikan karya terbaiknya khususnya di Film Indonesia dengan menyajikan genre film yang berbeda dan ide cerita yang segar. Meski masih banyak kekurangan tiap detail film yang telah dirilis, MNC Pictures berusaha menampilkan karya terbaiknya.

Berita

Review : Ali & Ratu Ratu Queens

Published

on

By

ali dan ratu ratu queens

             Sebuah film yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang, khususnya fans dari Iqbaal Ramadhan  yaitu Ali & Ratu Ratu Queens akhirnya sudah tayang pada 17 Juni 2021 di Netflix. Film yang disutradari oleh Lucky Kuswandi berhasil menghipnotis penonton dengan berbagai kisah yang tersaji. Di awal film kita akan diperlihatkan tentang konflik keluarga Ali, di mana Mia (Marissa Anita) berkeinginan untuk mewujudkan mimpinya ke New York.

                Ali kecil telah tumbuh menjadi remaja yang tengah mencari jati dirinya. Setelah ditinggal pergi selama-lamanya oleh ayahnya (Ibnu Jamil), Ali bertekad untuk menyusul ibunya ke New York. Bermodal postcard yang tersimpan dalam rak dan hasil menyewakan rumah, Ali berangkat ke New York sendirian. Mulai dari sini perjalanan Ali akan dimulai.

                Film ini semakin menarik ketika Ali bertemu dengan ibu-ibu imigran asal Indonesia, yaitu Party (Nirina Zubir), Ance (Tika Panggabean), Chinta (Happy Salma), dan Biyah (Asri Welas). Keempat tokoh ini memiliki karakter yang berbeda, tapi hal itulah yang membuat film ini terasa lebih hidup. Ali tinggal di apartemen  milik keempat tante-tante ini selama pencarian menemukan ibunya. Namun, nantinya semua kisah Ali akan mengalir dan bergulir seiring dirinya akrab dengan keempat tante-tante itu.

                Perjalanan cerita film ini mulai terasa sendu ketika Ali harus menerima kenyataan jika ibunya lebih memilih kehidupannya di kota New York. Namun, Ali beruntung dia menemukan arti keluarga versinya sendiri. Keluarga tak hanya ada ayah, ibu, atau anak melainkan orang-orang yang sayang dan peduli itulah keluarga yang sebenarnya.

                Film ini benar-benar mencampuradukkan emosi penontonnya, pasalnya banyak adegan yang dibungkus dengan sebuah komedi dan ada juga adegan emosional menguras perasaan. Peran para ratu juga berpengaruh dalam membangun jalannya cerita. Para pemain memainkan perannya masing-masing dengan ciri khas karakter yang kuat. Dialog serta gestur tubuh pun juga sangat mudah dipahami oleh penonton.

                Para pemain pendukung seperti Budhe (Cut Mini) yang kuat berpegang teguh dengan tradisi keluarga serta memegang teguh amanat dari ayahnya Ali diperankan dengan sangat baik. Selain itu, adanya Zul (Bayu Skak) menambahkan kesan komedi di awal film.

                Keunggukan-keunggulan lainnya dalam film Ali & Ratu Ratu Queens yaitu kita akan disuguhkan sisi lain kota New York. Bukan tentang tempat estetik nan romantis, tapi kita akan dibawa berkeliling melihat toko, street food, dan jalanan kota New York.

                Sedangkan untuk kekurangannya yaitu ending atau penyelesaian konfliknya terkesan kurang greget, di mana endingnya seakan-akan dibuat menggantung dan penonton dibuat harus menerka-nerkanya sendiri.

                Hal yang paling menarik dari film ini adalah pesan yang akan disampaikan. Ali menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya, hingga akhirnya setelah ayahnya meninggal Ali hidup dalam kesendirian. Permasalahan itu cukup relate dengan masyarakat Indonesia saat ini, di mana anak yang tidak tahu-menahu harus menjadi korban akibat keegoisan atau permasahan orang tuanya.

                Film ini sangat recommended untuk ditonton di rumah karena film ini tidak tayang di bioskop melainkan tayang di aplikasi streaming Netflix. Dengan kondisi pandemi saat ini memang tidak ada salahnya untuk tetap menonton film di rumah bersama keluarga.

Continue Reading

Review

Review : Skakmat

Published

on

By

Skakmat, berkisah tentang Jamal (Tanta Ginting), seorang tukang ojek yang hobi main catur, bermimpi ingin membuka usaha cuci motor di dekat pangkalan ojeknya. Rodiah, ibu Jamal, mengancam jika Jamal tidak segera mengubah hidupnya, tanah keluarga yang menjadi jatah Jamal akan menjadi milik sepupunya. Jamal mulai resah ditambah lagi urusan asmaranya mendapatkan tantangan dari orang tua Mirna (Andi Anissa) karena pekerjaannya yang tidak jelas.

Karakter Jamal yang diperankan oleh Tanta Ginting membuat film Skatmat menjadi hidup, yang awalnya harus bersinggungan dengan heroin barang haram yang akan dikemas menjadi permen, dan ketakutan Dito sang kurir heroin yang takut jika Arini anaknya menjadi korbannya. Karakter Jamal diciptakan dalam film ini sangat bisa membuat suasana menjadi lunak, yang slengekan dan sok humoris. Tapi kalau enggak ada Jamal, mungkin film ini hanya akan terkesan biasa.

Saat adegan berantem, Mami Tuti, Bos Tanah Tinggi dan Dito adalah sama-sama orang yang jago silat, jadi adegan saat berantem koreo-nya tidak kaku, natural aja karena memang sudah ahli dibidangnya. Ketiganya sudah sama-sama total mengeluarkan energi untuk adegan berantem, namun Dito terlihat paling total, paling keren mengeluarkan koreo-nya tidak diimbangi oleh keduanya, mungkin sudah terkonsep untuk jadi yang paling kuat jadi yang terlihat total hanya Dito saja.

Secara keseluruhan, script yang ditulis oleh Salman Artisto ini sangat bagus, step by step adegan dan obrolannya itu langsung to the point enggak bertele-tele dan potongan adegan utuh, enggak banyak yang kosong saat pergantian satu adegan ke adegan berikutnya.

Film Skakmat ini untuk penonton Dewasa 17 tahun keatas karena banyak adegan yang berantem yang boleh dilakukan oleh orang yang ahli.

Film berurasi 106 menit  ini diperankan oleh Donny Alamsyah, Tanta Ginting, Hannah Al Rashid, Cecep Arif Rahman, Sutan Simatupang, Karenina, Melissa Karim.

Continue Reading

Review

Review: Pendekar Tongkat Emas

Published

on

pendekar tongkat emas

Sudah cukup lama saya tak menyaksikan film Indonesia yang cukup ‘bergizi’. Hingga mendengar film ‘Pendekar Tongkat Emas’ diproduksi, saya sudah tetapkan hati harus menonton film ini.

Kenapa? Saya melihat belakangan ini banyak film Indonesia yang digarap ‘asal-asalan’, dengan naskah seadanya, casting pemain yang kurang greget, dan tak memberikan tontonan dengan “T” besar.

Saya berharap banyak karena ini film yang diproduseri Mira Lesmana dan Riri Riza, duo sineas yang selama ini dikenal bertangan dingin menghasilkan karya-karya film yang bagus. Tentunya anda masih ingat dengan Ada Apa Dengan Cinta, Gie, Eliana Eliana, atau Petualangan Sherina. Itu adalah sedikit film Indonesia yang memiliki pencapaian tertentu.

Bagaimana dengan Pendekar Tongkat Emas?

Jujur saya bukanlah penikmat film bergenre silat-silatan atau beladiri. Selama ini saya hanya senang nonton film Jet Li atau Jackie Chan, itupun karena suguhan akting kedua bintang itu, bukan pada genrenya. Saya tertarik menonton karena ada duo sineas dan beberapa bintangnya yang biasanya menjadi jaminan mutu.

Pendekar Tongkat Emas menurut saya adalah proyek gila dari Mira Lesmana dan Riri Riza. Ia hadir melawan arus besar film Indonesia yang belakangan sedang gandrung dengan genre drama, atau misteri. Ini bukan film tentang hijab-hijaban atau percintaan ala FTV, tapi film berlatar dunia persilatan di negeri entah berantah.

Sinematografinya Keren

Film ini mengisahkan soal perebutan kekuasaan yang disimbolkan dengan perebutan sebuah tongkat dari emas milik perguruan silat Tongkat Emas pimpinan Cempaka (diperankan oleh Christine Hakim). Perguruan ini merupakan perguruan silat termasyur dan tangguh yang mendidik 4 anak angkatnya yang dijadikan pendekarnya yakni Dara (Eva Celia), Biru (Reza Rahadian), Gerhana (Tara Basro), dan Angin (Aria Kusumah). Tiga dari keempat pendekar adalah anak dari musuh-musuh yang dibesarkan Cempaka.

Sampai pada satu titik Cempaka mewariskan tongkat emasnya pada Dara. Sebuah keputusan yang tidak dijelaskan mengapa, namun penonton diminta menyimpulkan sendiri. Keputusan itu memicu pertentangan dan rasa iri pada Biru dan Gerhana, yang sudah memendam rasa ingin menguasai tongkat sakti tersebut.

Konflik film ini berpusar pada perebutan dan perburuan tongkat emas, setelah sebelumnya Cempaka dibunuh secara keji oleh anak angkatnya sendiri.

Persoalan perebutan tongkat ini mengingatkan saya pada perebutan kursi pemimpin negeri ini yang keseruannya mirip dengan adegan film silat. Penuh tipu muslihat, saling jegal, fitnah, dan menggalang opini sesat untuk publik.

Yang menarik dari film ini adalah gambar-gambar view pemandangan alam Sumba yang menakjubkan. Nikmat mata ini mendapat suguhan ala National Geographic. Sutradara Ifa Isfansyah sangat paham bahwa ini menjadi kekuatan lain dari film yang konon berbiaya 25 Milyar Rupiah ini.

Saya harus acungi jempol untuk pemilihan lokasi yang apik. Lansekap Sumba yang eksotis tergambar secara baik.

Faktor Christine Hakim

Cerita film ini menurut saya cukup simpel, khas cerita-cerita silat. Kalau ada yang harus dipuji adalah permainan Christine Hakim sebagai Cempaka yang berada di atas rata-rata pemain lainnya. Jam terbang dan kualitasnya belum ada bandingannya. Meski tampil tidak dominan, Christine benar-benar mencuri perhatian. Cara duduk dan bicaranya mengingatkan saya pada film Tjut Nyak Dien yang juga diperankan Christine Hakim.

Saya sulit membayangkan jika peran ini tidak dimainkan Christine Hakim. Ia adalah aktris yang total. Melihat aktingnya, wardrobe maupun riasan wajahnya pas dengan karakternya. Ini yang tak terlihat dari Tara Basro atau Eva Celia.

Di peringkat berikutnya ada Reza Rahadian yang menurut saya selalu menunjukkan performa yang bagus di film-filmnya. Reza keluar dari sosok Habibie yang menurut saya peran paling menonjol darinya selama ini. Dan ini menurut saya adalah film Reza yang berbeda, yang menjadikannya tokoh antagonis.

Agak disayangkan adalah akting Eva Celia sebagai main cast yang belum ‘ngeblend’ dengan perannya sebagai seorang pendekar. Eva masih berjarak dari karakter yang diperankannya. Untuk seorang pendekar tangguh, Eva terlalu FTV gayanya.

Sama dengan Eva adalah penampilan Nicholas Saputra yang belum bisa ‘move on’ dari karakter Rangga di AADC. Nico terlalu anak mami daripada seorang pendekar.

Oiya, patut dicatat juga adalah akting Aria Kusumah sebagai Angin. Meski jarang bicara, mimik dan bahasa tubuhnya keren. Sebagai pendatang baru lumayanlah penampilannya di film ini.

Dibalik catatan saya mengenai akting para pemerannya, secara umum film ini penting dan wajib tonton. Berguna juga untuk memberi pelajaran pada para produser film bahwa untuk membuat sebuah karya butuh keseriusan, butuh riset yang tidak mudah dan menyodorkan tema yang tak biasa.

Continue Reading

Trending