Connect with us

Review

VIVA JKT48: Ucapan Terimakasih Member JKT48 Untuk Fans

Published

on

viva jkt48

Viva JKT48 …. Waduh, teater JKT48 di rebut oleh kompetitor yaitu BKT48, bagaimana nasib members JKT48 dan Fans?

Para members JKT48 memutuskan untuk resign dari grup idol yang telah membesarkan nama mereka, namun sesuatu yang ganjal terselip di momen tersebut. Melodi dan kawan-kawan mencari sesuatu yang ganjal tersebut kepelosok penjuru, untuk memastikan hal yang belum mereka ketahuin, mengapa mereka tiba-tiba di depak dari teater dan berada dilokasi yang asing bagi mereka. Dibantu, Manager Takeshi (Nobuyuki Suzuki), dan 3 fans setia mereka (Mario Maulana, Bobby Samuel, Ciput) untuk mengembalikan teater dari tangan tante jahat Miss Kejora (Ayu Dewi) dan BKT48, berhasilkah mereka?

viva jkt48 6

Awi Suryadi berada di balik layar film ini sebagai sutradara, members JKT48 yang dipercayai memerankan karakter nya masing-masing disini adalah Melody, Nabilah, Rona, Shania, Haruka, Naomi, A-Chan dan Cindvia. Premis cerita difilm ini pun dibuat simpel dan mengalir, humor segar yang ditampilkan cukup membantu film ini menjadi lebih berwarna, dibalik wajah “Kawai” para Front member JKT48. Akting para members JKT48 natural sebagaimana mereka aslinya, namu terlihat masih kaku, untuk Ayu Dewi memang menjadi scene stealer dengan lelucon khas nya. Penonton tanpa harus berfikir untuk mencerna drama yang berat atau diaolog panjang yang berat dan membosankan, karena film Viva JKT48 pure hiburan dari JKT48 dengan diselipkan nya lagu Hits dari mereka, dan memberikan wawasan tentang Grup Idol ini kepada penonton awam yang belum mengenal mereka seperti para Fans fanatik nya yang diberi nama “WOTA”.

Sayang dengan cerita yang segar dan penuh kegembiraan dan kemudahan dalam plot cerita menjadikan kelemahan dalam film ini. Plot cerita yang berganti dengan mudah nya tanpa ada perubahan signifikan dalam pengembangan cerita nya jadi terasa aneh untuk diperhatikan. Ketidak konsistenan pemain dalam scene juga jadi suatu plot hole yang tidak bisa diterima, dibeberapa adegan kedelapan member utama tersebut tampil lengkap, namun di scene selanjutnya tiba-tiba menghilang tanpa alasan yang jelas. Mungkin hal tersebut di karenakan para member yang sibuk saat syuting film ini. Tapi hal tersebut seharusnya tidak terjadi di film, karena pemain didalam nya harus berada diporsi mereka yang telah ditentukan oleh team produksi.

viva jkt48 3

Dari kekurangan-kekerungan tersebut, film Viva JKT48 tetap menjadi film yang segar dan menghibur, tidak usah berfikir film ini akan membosankan. Karena didalam nya banyak humor-humor segar dari para pemain pendukung, seperti tingkat Miss Kejora dan Anak nya, 3 Fans setia JKT48 dan para Stand Up Comedy yang ambil peran dalam film tersebut. Film Viva JKT48, film ucapan terima kasih untuk para fans dari idola nya, menghibur dan Joyful. Seperti singkatan grup mereka JKT48, J= Joyful, K=Kawaii, T=Try to Be The Best, feel yang kita rasakan saat menonton Viva JKT48.

Film Viva JKT48 tayang 5 Juni 2014 di Seluruh Bioskop Indonesia.

Rating(3/5)

 

 

Continue Reading
Click to comment

Review

Review : Skakmat

Published

on

By

Skakmat, berkisah tentang Jamal (Tanta Ginting), seorang tukang ojek yang hobi main catur, bermimpi ingin membuka usaha cuci motor di dekat pangkalan ojeknya. Rodiah, ibu Jamal, mengancam jika Jamal tidak segera mengubah hidupnya, tanah keluarga yang menjadi jatah Jamal akan menjadi milik sepupunya. Jamal mulai resah ditambah lagi urusan asmaranya mendapatkan tantangan dari orang tua Mirna (Andi Anissa) karena pekerjaannya yang tidak jelas.

Karakter Jamal yang diperankan oleh Tanta Ginting membuat film Skatmat menjadi hidup, yang awalnya harus bersinggungan dengan heroin barang haram yang akan dikemas menjadi permen, dan ketakutan Dito sang kurir heroin yang takut jika Arini anaknya menjadi korbannya. Karakter Jamal diciptakan dalam film ini sangat bisa membuat suasana menjadi lunak, yang slengekan dan sok humoris. Tapi kalau enggak ada Jamal, mungkin film ini hanya akan terkesan biasa.

Saat adegan berantem, Mami Tuti, Bos Tanah Tinggi dan Dito adalah sama-sama orang yang jago silat, jadi adegan saat berantem koreo-nya tidak kaku, natural aja karena memang sudah ahli dibidangnya. Ketiganya sudah sama-sama total mengeluarkan energi untuk adegan berantem, namun Dito terlihat paling total, paling keren mengeluarkan koreo-nya tidak diimbangi oleh keduanya, mungkin sudah terkonsep untuk jadi yang paling kuat jadi yang terlihat total hanya Dito saja.

Secara keseluruhan, script yang ditulis oleh Salman Artisto ini sangat bagus, step by step adegan dan obrolannya itu langsung to the point enggak bertele-tele dan potongan adegan utuh, enggak banyak yang kosong saat pergantian satu adegan ke adegan berikutnya.

Film Skakmat ini untuk penonton Dewasa 17 tahun keatas karena banyak adegan yang berantem yang boleh dilakukan oleh orang yang ahli.

Film berurasi 106 menit  ini diperankan oleh Donny Alamsyah, Tanta Ginting, Hannah Al Rashid, Cecep Arif Rahman, Sutan Simatupang, Karenina, Melissa Karim.

Continue Reading

Review

Review Film 3 Dara

Published

on

By

film 3 dara

3 Dara adalah sebuah film tentang tiga pria yang mengalami perubahan sikap seperti seorang dara. Kisah berawal ketika Affandi (Tora Sudiro), Jay (Adipati Dolken) dan  Richard (Tanta Ginting) yang disumpahi oleh wanita yang mereka goda.  (lebih…)

Continue Reading

Review

Review: Pendekar Tongkat Emas

Published

on

pendekar tongkat emas

Sudah cukup lama saya tak menyaksikan film Indonesia yang cukup ‘bergizi’. Hingga mendengar film ‘Pendekar Tongkat Emas’ diproduksi, saya sudah tetapkan hati harus menonton film ini.

Kenapa? Saya melihat belakangan ini banyak film Indonesia yang digarap ‘asal-asalan’, dengan naskah seadanya, casting pemain yang kurang greget, dan tak memberikan tontonan dengan “T” besar.

Saya berharap banyak karena ini film yang diproduseri Mira Lesmana dan Riri Riza, duo sineas yang selama ini dikenal bertangan dingin menghasilkan karya-karya film yang bagus. Tentunya anda masih ingat dengan Ada Apa Dengan Cinta, Gie, Eliana Eliana, atau Petualangan Sherina. Itu adalah sedikit film Indonesia yang memiliki pencapaian tertentu.

Bagaimana dengan Pendekar Tongkat Emas?

Jujur saya bukanlah penikmat film bergenre silat-silatan atau beladiri. Selama ini saya hanya senang nonton film Jet Li atau Jackie Chan, itupun karena suguhan akting kedua bintang itu, bukan pada genrenya. Saya tertarik menonton karena ada duo sineas dan beberapa bintangnya yang biasanya menjadi jaminan mutu.

Pendekar Tongkat Emas menurut saya adalah proyek gila dari Mira Lesmana dan Riri Riza. Ia hadir melawan arus besar film Indonesia yang belakangan sedang gandrung dengan genre drama, atau misteri. Ini bukan film tentang hijab-hijaban atau percintaan ala FTV, tapi film berlatar dunia persilatan di negeri entah berantah.

Sinematografinya Keren

Film ini mengisahkan soal perebutan kekuasaan yang disimbolkan dengan perebutan sebuah tongkat dari emas milik perguruan silat Tongkat Emas pimpinan Cempaka (diperankan oleh Christine Hakim). Perguruan ini merupakan perguruan silat termasyur dan tangguh yang mendidik 4 anak angkatnya yang dijadikan pendekarnya yakni Dara (Eva Celia), Biru (Reza Rahadian), Gerhana (Tara Basro), dan Angin (Aria Kusumah). Tiga dari keempat pendekar adalah anak dari musuh-musuh yang dibesarkan Cempaka.

Sampai pada satu titik Cempaka mewariskan tongkat emasnya pada Dara. Sebuah keputusan yang tidak dijelaskan mengapa, namun penonton diminta menyimpulkan sendiri. Keputusan itu memicu pertentangan dan rasa iri pada Biru dan Gerhana, yang sudah memendam rasa ingin menguasai tongkat sakti tersebut.

Konflik film ini berpusar pada perebutan dan perburuan tongkat emas, setelah sebelumnya Cempaka dibunuh secara keji oleh anak angkatnya sendiri.

Persoalan perebutan tongkat ini mengingatkan saya pada perebutan kursi pemimpin negeri ini yang keseruannya mirip dengan adegan film silat. Penuh tipu muslihat, saling jegal, fitnah, dan menggalang opini sesat untuk publik.

Yang menarik dari film ini adalah gambar-gambar view pemandangan alam Sumba yang menakjubkan. Nikmat mata ini mendapat suguhan ala National Geographic. Sutradara Ifa Isfansyah sangat paham bahwa ini menjadi kekuatan lain dari film yang konon berbiaya 25 Milyar Rupiah ini.

Saya harus acungi jempol untuk pemilihan lokasi yang apik. Lansekap Sumba yang eksotis tergambar secara baik.

Faktor Christine Hakim

Cerita film ini menurut saya cukup simpel, khas cerita-cerita silat. Kalau ada yang harus dipuji adalah permainan Christine Hakim sebagai Cempaka yang berada di atas rata-rata pemain lainnya. Jam terbang dan kualitasnya belum ada bandingannya. Meski tampil tidak dominan, Christine benar-benar mencuri perhatian. Cara duduk dan bicaranya mengingatkan saya pada film Tjut Nyak Dien yang juga diperankan Christine Hakim.

Saya sulit membayangkan jika peran ini tidak dimainkan Christine Hakim. Ia adalah aktris yang total. Melihat aktingnya, wardrobe maupun riasan wajahnya pas dengan karakternya. Ini yang tak terlihat dari Tara Basro atau Eva Celia.

Di peringkat berikutnya ada Reza Rahadian yang menurut saya selalu menunjukkan performa yang bagus di film-filmnya. Reza keluar dari sosok Habibie yang menurut saya peran paling menonjol darinya selama ini. Dan ini menurut saya adalah film Reza yang berbeda, yang menjadikannya tokoh antagonis.

Agak disayangkan adalah akting Eva Celia sebagai main cast yang belum ‘ngeblend’ dengan perannya sebagai seorang pendekar. Eva masih berjarak dari karakter yang diperankannya. Untuk seorang pendekar tangguh, Eva terlalu FTV gayanya.

Sama dengan Eva adalah penampilan Nicholas Saputra yang belum bisa ‘move on’ dari karakter Rangga di AADC. Nico terlalu anak mami daripada seorang pendekar.

Oiya, patut dicatat juga adalah akting Aria Kusumah sebagai Angin. Meski jarang bicara, mimik dan bahasa tubuhnya keren. Sebagai pendatang baru lumayanlah penampilannya di film ini.

Dibalik catatan saya mengenai akting para pemerannya, secara umum film ini penting dan wajib tonton. Berguna juga untuk memberi pelajaran pada para produser film bahwa untuk membuat sebuah karya butuh keseriusan, butuh riset yang tidak mudah dan menyodorkan tema yang tak biasa.

Continue Reading

Trending