Connect with us

Festival

Film Indonesia Menang di Rotterdam International Film Festival 2013

Published

on

Film karya sutradara Mouly Surya, ‘Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta’ (What They Don’t Talk About When They Talk About Love)  ini diperankan oleh Nicholas Saputra, Ayushita Nugraha, Anggun Priambodo, dan Karina Salim.

‘Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta’ bercerita tentang kompleksitas hubungan cinta yang muncul pada para penyandang disabilitas. Fitri (Ayushita) yang tuna netra bertemu dengan Edo (Nicholas Saputra) yang tidak bisa bicara.

Film ini masuk dalam kategori ‘World Dramatic Competition’ di Sundance Film Festival 2013. Selanjutnya, film tersebut akan tayang di Rotterdam International Film Festival 2013 dan Goteborg International Film Festival 2013.

dont talk love

Nah pada kesempatan ini, Film ‘Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta’ (What They Don’t Talk About When They Talk About Love) berhasil memenangkan penghargaan NETPAC prize untuk kategori film Asia pasifik di International Film Festival Rotterdam 2013. Dengan demikian, Mouly Surya berhak mendapatkan dukungan finansial dari Hubert Bals Fund Rotterdam.

Mouly mengungkapkan, dirinya terinspirasi untuk mengangkat cerita tersebut karena ia dekat dengan anak asuh penyandang disabilitas. “Ide dasarnya adalah saya ingin membuat film SMA yang ada prom night, tapi setting-nya tentang anak-anak tunanetra”.

Selain dibintangi Ayu Shita dan Nicholas Saputra, film itu juga dibintangi oleh Lupita Jennifer, Tutie Kirana, Jajang C. Noer, Khiva Iskak, Alya Syahrani dan Adella Fauzi. ‘Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta’ rencananya akan dirilis di Indonesia pada April 2013.

Berita

Pemenang Kategori Non Bioskop FFI 2015

Published

on

By

Malam Penganugerahan Festival Film Indonesia 2015 telah terselenggara dengan baik pada tanggal 23 November 2015 di ICE BSD. Ada 21 kategori yang masuk dalam nominasi Festival Film Indonesia 2015, 16 kategori sudah dibacakan ketika malam penganugerahan FFI 2015 dan masih ada 5 Kategori yang belum disampaikan secara langsung. Bertempat di Plaza Indonesia, kategori Non Bioskop diumumkan, dan berikut pemenangnya :

Film Televisi

HATI HATI DENGAN HATI

Jalu (46 tahun) mantan aktivis, pejuang reformasi 1998. Saat ini bekerja sebagai pengumpul barang bekas. Saat sedang berada di sebuah kompleks perumahan mewah dan berhenti di sebuah rumah dan berhenti di depan sebuah rumah,ia diusir satpam yang berjaga. Dea (44) pemilik rumah itu melihatnya lalu menyuruh pembantunya memberikan dua karung berisi barang bekas pada Jalu. Ternyata Diko, suami Dea,adalah kawan lama Jalu dania ingin sekali bertemu dengan Jalu.

 

Film Pendek

THE FOX EXPLOITS THE TIGER MIGHT

The Fox Exploits the Tiger’s Might bercerita tentang dua anak laki-laki pra-remaja yang sedang bergulat dengan seksualitas mereka, serta hubungan antara seks dan kekuasaan, di sebuah kota kecil yang sunyi tempat bercokolnya basis militer. David adalah anak jendral yang sombong dan suka memamerkan kekayaan ayahnya, sementara Aseng datang dari keluarga etnis minoritas pedagang tembakau yang menjual minuman keras selundupan. Film besutan sutradara Lucky Kuswandiini juga ditayangkan di Cannes International Film Festival 2015, yang diselenggarakan pada 13-24 Mei 2015 di Cannes, Perancis. Film inilolosseleksimasukSemaine de La Critique, yang merupakan bagian paralel dari Cannes International Film Festival dan diadakan untuk menemukan bakat baru bidang perfilman dari seluruh dunia.

 

Film Animasi

GWK

Film animasi ini adalah adaptasi dari mitologi Hindu yang berkisah tentang Garuda Wisnu Kencana. Dimana penyihir Kadru yang jahat ingin memperolah TirtaAmerta, air yang bisa membuat hidup abadi dan membuat bencana di dunia. Kadru sadar bahwa satu-satunya yang bisa mengambil Tirta Amerta adalah Garuda. Maka dengan licik ia membuat Vinata, Ibu Garuda, terjebak menjadi budaknya. Untuk bisa membebaskan Ibunya, Garuda terpaksa mengikuti keinginan Kadru mengambil Tirta Amerta yang dijaga Dewa Wisnu. Garuda sadar sekali bahaya yang timbul bila Tirta Amerta berada di tangan Kadru. Tetapi ia tidak punya pilihan lain.

Film Dokumenter Pendek

TINO SIDIN GURU GAMBAR

Pada era 80-an kita mengenal sosok Tino Sidin seorang tokoh yang mengembangkan sebuah metode menggambar dengan mengunakan spidol dan kertas dengan mengabungkan dua unsur garis, garisl urus dan garis lengkung, dalam penciptaan objek gambar. Tokoh ini sangat terkenal dikalangan anak-anak Indonesia pada zaman itu lewat sebuah program Televisi “Gemar Menggambar” pada stasiun TVRI. Program ini menjadi siaran inspiratif pemirsanya, terutama anak-anak dinusantara, sebab beliau selalu mengkomentari hasil kiriman dari pemirsa dengan kata “Baguus!..tidak ada yang jelek”. Selain itu, Tino Sidin juga banyak menghasilkan karya tulisan, komik dan lukisan. Film yang dikerjakan oleh Mohd. Fikri beserta teman-temannya di Fakultas Film dan TelevisiInstitutKesenian Jakarta (FFTV IKJ) ini mengungkap cerita mengenai Tino Sidin dalam sebuah cerita kehidupan beliau dimata keluarganya, sahabat, murid, dan koleganya.

 

Film Dokumenter Panjang

MENDADAK CALEG

Kemeriahan mewarnai hari pertama masa kampanye Pemilu 2014. Ribuan pendukung parpol memadati jalan protokol Ibukota. Suratmi S, SE, calon anggota DPRD dari PartaiAmanat Nasional (PAN) untuk Dapil 9, juga berada di tengah lautan massa tersebut. Ia bersama sejumlah relawannya terlihat begitu kecil dan sederhana di antara kemegahan para caleg bermodal besar dan dari partai besar pula. Maka, hiruk-pikuk dan karut-marut pesta demokrasi segera dihadirkan melalui film dokumenter bertajuk Mendadak Caleg dengan karakter utama Suratmi S, SE. Kisah perjalanan caleg ini pun dimulai dari suasana hiruk-pikuk di pasar kaget di tengah permukiman warga di kawasan Krendang Tengah, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Penuturan para relawan, warga yang menjadi simpatisan, caleg DPR yang juga fungsionaris PAN, juga sang caleg sendiri akan menjadi narasi pelbagai peristiwa meliputi rapat-rapat persiapan Premis yang diusung film ini adalah perjuangan seorang caleg di antara karut-marut Pemilu 2014.

 

Penghargaan Khusus Dewan Juri – Film Dokumenter Panjang

CERITA TENTANG CAK MUNIR

Cerita Tentang Cak Munir adalah film dokumenter biografi yang merangkum kesaksian orang-orang terdekat Munir Said Thalib tentang interaksinya dan bagaimana hubungan di antara mereka terbangun dan saling mempengaruhi satu sama lain dalam relasi yang terjalin. Munir Said halib adalah aktivis Hak Asasi Manusia kelahiran Malang, 8 Desember 1965. Selama hidupnya Ia telah banyak mengadvokasi banyak kasus perburuhan dan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia berat. Ia meninggal diracun dalam penerbangannya menuju Belanda pada tanggal 7 September 2004. Film documenter berdurasi 90 menit ini disutradarai oleh Hariwi, mahasiswa semester 6 STMM Yogyakarta, beserta teman-temannya dari komunitas AlienS Films.

 

Penghargaan Khusus Dewan Juri – Film Animasi

TENDANGAN HALILINTAR

Sebuah kompetisi antara si baik dan si jahat yang divisualisasikan dalam bentuk pertandingan sepak bola. Namun sepak bola ini bukan sepak bola biasa. Ini adalah sepak bola yang penuh ketegangan karena banyak hal yang tak terduga akan muncul yang membuat adrenalin terpacu. Adalah Akbar, yang didaulat sebagai kapten Tim Garuda harus terus berusaha melakukan yang terbaik bersama personel yang lainnya dalam menghadapi Alvan bersama Tim Super nya. Kemenangan Milik Kebaikan, itulah pesan utama dari film animasi besutan MD Animation ini.

Continue Reading

Berita

Daftar Pemenang Festival Film Indonesia 2015

Festival Film Indonesia 2015 telah mencapai puncaknya bertempat di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. Berikut ini adalah daftar pemenang Festival Film Indonesia 2015 yang berhak membawa pulang Piala Citra:

Published

on

Daftar Pemenang Festival Film Indonesia 2015

Festival Film Indonesia 2015 telah mencapai puncaknya bertempat di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. Berikut ini adalah daftar pemenang Festival Film Indonesia 2015 yang berhak membawa pulang Piala Citra:

Baca: Daftar Nominasi Festival Film Indonesia 2015

A. Kategori Film Pendek Terbaik

1. Kilau Kerikil (Tripod Production – Jakarta)
2. Natalan (Kebon Studio – Jakarta)
3. Semalam Anak Kita Pulang (Fourcolours Films – Yogyakarta)
4. Simbiosis (Neofreak & Manguni Pictures – Tangerang)
5. The Fox Exploits The Tigers Might (Babibuta Film – Tangerang) – Pemenang

B. Kategori Film Animasi Terbaik

1. Djakarta 00 (Galang E. Larope – Jakarta)
2. GWK (Alam Sutera – Tangerang) – Pemenang
3. Kapur Ade (Lanting Animation – Jakarta)
4. Parte (Pe-Mamam Production – Jakarta)
5. Tendangan Halilintar (MD – Animation)

C. Kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik

1. Segalanya Demi Kehamilanku (Suprie Van Jaya – Bogor)
2. Mendadak Caleg (M-Docs – Jakarta) – Pemenang
3. Elegi di Negeri Oepoli (Kompas TV – Jakarta)

D. Kategori Film Dokumenter Pendek Terbaik

1. Nostalgia Senja (Fakultas Film & Televisi Institut Kesenian Jakarta)
2. Salam dari Anak-anak Tergenang (Satu Lensa – Sukabumi)
3. Pejuang dari Gua Purbakala (Eagle Institute Indonesia – Jakarta)
4. Tino Sidin Sang Guru Gambar (Fakultas Film & Televisi Institut Kesenian Jakarta) – Pemenang
5. SDR (Sekolah Pasca IKJ – Bekasi)

E. Kategori Film Televisi Terbaik

1. Hati-hati Dengan Hati (SCTV) – Pemenang
2. Ibu Tak Bisa Lagi Mendengar Tangismu (SCTV)
3. Malu Itu Perlu (SCTV)
4. Nyanyian Musim Hujan (Miles Film – Jakarta)
5. Takjil Bu Syafi’i (PT. Sinemart Indonesia Jakarta)

F. Kategori Perancang Busana Terbaik

1. Anggia Kharisma (Filosofi Kopi)
2. Chitra Subiyakto (Pendekar Tongkat Emas)
3. Isabella Patrice & Tania Soeprapto (The Wedding and Bebek Betutu)
4. Jeanne Elizabeth Fam (Di Balik 98)
5. Retno Ratih Damayanti (Guru Bangsa: Tjokroaminoto) – Pemenang

G. Kategori Penulis Skenario Asli Terbaik

1. Anggy Umbara, Bounty Umbara, dan Fajar Umbara (3)
2. Ari Syarif dan Erik Supit (Guru Bangsa: Tjokroaminoto)
3. Eddie Cahyono (Siti) – Pemenang
4. Monty Tiwa dan Robert Ronny (Kapan Kawin?)
5. Salman Aristo, Bagus Bramanti, dan Ismail Basbeth (Mencari Hilal)

H. Kategori Penulis Skenario Adaptasi Terbaik

1. Alim Sudio (Surga yang Tak Dirindukan)
2. Benni Setiawan (Toba Dreams)
3. Dirmawan Hatta (Bulan di Atas Kuburan)
4. Jenny Jusuf (Filosofi Kopi) – Pemenang
5. Johansyah Jumberan dan Jay Sukmo (Catatan Akhir Kuliah)

I. Kategori Penata Musik Terbaik

1. Aksan Sjuman (Love and Faith)
2. Charlie Meliala (Mencari Hilal)
3. Krisna Purna (Siti) – Pemenang
4. Rooftop sound (A Copy of My Mind)
5. Vicky Sianipar (Bulan di Atas Kuburan)

J. Kategori Penata Suara Terbaik

1. Khikmawan Santosa (A Copy of My Mind) – Pemenang
2. Khikmawan Santosa dan Novi D.R.N (3)
3. M. Yusuf Patawari (Jendral Soedirman)
4. Satrio Budiono dan Trisno (Guru Bangsa: Tjokroaminoto)
5. Satrio Budiono dan Yusuf Andi (Pendekar Tongkat Emas)

K. Kategori Pengarah Artistik Terbaik

1. Allan Sebastian (Guru Bangsa: Tjokroaminoto) – Pemenang
2. Allan Sebastian (Mencari Hilal)
3. Eros Eflin (Pendekar Tongkat Emas)
4. Oscar Firdaus (Toba Dreams)
5. Vidia Sylvia (Supernova)

L. KategoriPenyunting Gambar Terbaik

1. Ahsan Andrian (Filosofi Kopi) – Pemenang
2. Sastha Sunu & Kelvin Nugroho (Supernova)
3. Sentot Sahid (Air Mata Surga)
4. Wawan I. Wibowo (Mencari Hilal)
5. Wawan I. Wibowo & Cesa David Luckmansyah (Hijab)

M. Kategori Penata Efek Visual Terbaik

1. Epics FX Studio (Comic 8: Casino Kings Part 1)
2. Fixit Works (Supernova) – Pemenang
3. Raiyan Laksamana (Di Balik 98)
4. Satria Bhayangkara (Guru Bangsa: Tjokroaminoto)
5. Sinergy Animation (3)

N. Kategori Pengarah Sinematografi Terbaik

1. Fauzi “Ujel” Bausad (Siti)
2. Ical Tanjung (A Copy of My Mind)
3. Ipung Rachmat Syaiful (Guru Bangsa: Tjokroaminoto) – Pemenang
4. Yadi Sugandi dan Muhammad Firdaus (Di Balik 98)
5. Yudi Datau (Supernova)

O. Kategori Pemeran Anak Terbaik

1. Aria Kusumah (Pendekar Tongkat Emas) – Pemenang
2. Bima Azriel (3)
3. Bima Azriel (Di Balik 98)
4. Fatih Unru (Seputih Cinta Melati)
5. Raihan Khan (Ada Surga di Rumahmu)

P. Kategori Pemeran Pendukung Wanita Terbaik

1. Christine Hakim (Pendekar Tongkat Emas) – Pemenang
2. Prisia Nasution (Comic 8: Casino Kings Part 1)
3. Raline Shah (Surga yang Tak Dirindukan)
4. Ria Irawan (Bulan di Atas Kuburan)
5. Wulan Guritno (Nada untuk Asa)

Q. Kategori Pemeran Pendukung Pria Terbaik

1. Adi Kurdi (Kapan Kawin?)
2. Mathias Muchus (Toba Dreams) – Pemenang
3. Paul Agusta (A Copy of My Mind)
4. Slamet Rahardjo (Filosofi Kopi)
5. Tanta Ginting (3)

R. Kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik

1. Adinia Wirasti (Kapan Kawin?)
2. Chelsea Islan (Di Balik 98)
3. Dewi Sandra (Air Mata Surga)
4. Marsha Timothy (Nada Untuk Asa)
5. Tara Basro (A Copy of My Mind) – Pemenang

S. Kategori Pemeran Utama Pria Terbaik

1. Deddy Soetomo (Mencari Hilal) – Pemenang
2. Reza Rahadian (Guru Bangsa: Tjokroaminoto)
3. Reza Rahadian (Kapan Kawin?)
4. Rio Dewanto (Love & Faith)
5. Vino G. Bastian (Toba Dreams)

T. Kategori Sutradara Terbaik

1. Angga Dwimas Sasongko (Filosofi Kopi)
2. Benni Setiawan (Toba Dreams)
3. Eddie Cahyono (Siti)
4. Ismail Basbeth (Mencari Hilal)
5. Joko Anwar (A Copy of My Mind) – Pemenang

U. Kategori Film Terbaik

1. A Copy of My Mind
2. Guru Bangsa: Tjokroaminoto
3. Mencari Hilal
4. Siti – Pemenang
5. Toba Dreams

 Special Lifetime Achievement: George Kamarullah

Continue Reading

Festival

Malam Puncak FFI 2015 dan Mengenang Teguh Karya

Published

on

Malam Puncak FFI 2015

Setelah rangkaian acara yang dimulai sejak akhir oktober lalu, akhirnya FFI 2015 memasuki Malam Puncak Penganugerahan Piala Citra. Panggung terbesar insan film tanah air di negeri sendiri, tapi juga sebagai industri kreatif yang memberi kontribusi pada perekonomian indonesia.

Menurut Lukman Sardi, kelima film yang masuk nominasi film terbaik tahun ini adalah film yang Indonesia banget. Masing-masing film dibuat dengan budget yang sangat minim.

Berbagai acara yang diadakan oleh panitia sebelum malam puncak memperoleh tanggapan yang sangat positif dari masyarakat “Apalagi program nonton film-filmnya Teguh Karya dan film2 sudah dinominasikan, mereka sangat antusias sekali dengan itu. Dan itu membuktikan kalau masyarakat masih mencintai film indonesi” ujar Lukman Sardi

Malam puncak penganugerahan FFI 2015 berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang Selatan, Banten.  Provinsi paling barat di Pulau Jawa ini dipilih sebagai tuan rumah FFI tahun ini untuk melengkapi tema FFI tahun ini “Teater dan Film”. Tema ini dipilih untuk mengenang (Alm) Teguh Karya, sosok legendaris di dunia perfilman yang lahir di Pandeglang, Banten. Sebagai artis yang berangkat dari teater, Teguh Karya juga merupakan sutradara yang paling banyak meraih piala citra.

Continue Reading

Trending