Cinta dan Peduli Film Indonesia|Saturday, April 19, 2014
Anda disini > Home » Sinopsis » Sinopsis : Leher Angsa (2013)
  • Tetap Terhubung

Sinopsis : Leher Angsa (2013) 

Leher Angsa - 5 Juni

Leher Angsa – 20 Juni

… sebuah desa, satu-satunya fasilitas buang air besar yang sehat di desa itu adalah sebuah WC Leher Angsa milik kepala desa, disana seluruh penduduknya buang air besar di kali. Dan di desa itu ada seorang bocah lelaki cerdas yang gemar membaca. Karena dengan gemar membaca, ia jadi mengerti banyak hal. Ia bernama Aswin.

Aswin memiliki tiga teman karib, satu kelas di sekolah. Johan, Sapar dan Najib. Sapar kurus dan ceking anak orang miskin. Johan penuh percaya diri dan anak seorang seniman biola sangat santun dalam berbicara, sedangkan Najib bertubuh besar dan kuat, dan sangat menyukai olahraga.

Aswin kehilangan ibunya ketika sebuah pesawat latih ringan jatuh menimpa sang ibu yang sedang bekerja di ladang. Mestinya saat itu giliran ayahnya, Pak Tampan yang bekerja di ladang, tapi sang ayah lebih memilih pergi menyabung ayam. Sudah kehendak Tuhan kata sang ayah, tapi Aswin tak menerima dan tak mengerti. Sejak saat itu Aswin jadi tidak suka kepada ayahnya.

Segera Aswin mendapat ibu baru, Aswin menyukai ibu barunya. Dan karenanya merasa kasihan melihat ibu barunya yang tak terbiasa buang air besar di kali. Aswin meminta ayahnya untuk membuatkan ibu barunya sebuah WC leher angsa seperti milik kepala desa. “Nanti ibumu akan terbiasa”, kata ayahnya. Ditambah dengan keinginan memiliki sepeda yang tak pernah dipenuhi ayahnya, Aswin semakin tidak suka pada ayahnya.

Persoalan si miskin Sapar membuat Aswin sedikit melupakan persoalan dengan orang tuanya. Sapar bisulan di bokongnya dan karenanya ia tak masuk sekolah. Persoalan bisul menjadi persoalan penting yang harus dipecahkan agar Sapar bisa masuk sekolah kembali. Bisul akan sembuh kalau sudah pecah. tapi sebelum pecah ia harus matang dulu. Sepertinya bisul di bokong Sapar sudah matang, tapi kok tidak pecah-pecah?

Johan adalah anak yang penuh percaya diri dan selalu mencari kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya bermain biola. Tapi permainan biola Johan menjadi momok yang menakutkan bagi teman-temannya. Karena suara yang dihasilkannya amat mengerikan. Melengking memekakkan dan menyayat genderang telinga.

Tapi Aswin yang cerdas melihat potensi permainan biolanya Johan. Maka Aswin menyuruh Johan memainkan biolanya di hadapan Sapar. Sapar yang bisulan parah ‘menari-nari’ kesakitan karena tidak tahan mendengar lengkingan biolanya Johan dan lalu setelah usai merasa lega dan tak sadar menduduki bisulnya. Bisul itu pecah dan kemudian sembuh.

Aswin merindukan ibunya yang telah tiada, meskipun ada ibu baru yang baik hati. Dan ayahnya, Pak Tampan, terkena kutukan – paling tidak itu pikiran Aswin – tumbuh bisul di bokongnya. Sudah tentu Pak Tampan yang pelit tidak mau berobat ke dokter atau puskesmas. Bisul itu akan sembuh dengan sendirinya, pikirnya. Tapi ternyata tidak.

Tak mau panjang lebar berdebat dengan anaknya, Pak Tampan mengakui saja kesalahannya, dan berjanji akan membuat WC leher angsa di rumah. “Tapi bagaimana dengan bisulku ini?” tanya Pak Tampan.

Pengalaman memecahkan bisulnya Sapar dengan biolanya Johan dipakai Aswin untuk menteraphi bisul ayahnya. Terapi biola memang membuat bisul itu pecah.

Pak Tampan sembuh dan ia menepati janjinya membuatkan WC leher angsa di rumah. Bertahun-tahun kemudian semakin banyak orang di desa itu yang membuat fasilitas buang air besar di rumah. Namun tetap saja masih ada satu dua orang yang tetap buang air besar di kali yaitu mereka yang hanya merasa nyaman buang air besar bila bokongnya terendam air.

  • Genre : -
  • Sutradara : Ali Sihasale
  • Produksi : Alenia Pictures
  • Pemain : Bintang Panglima, Lukman Sardi , Ringgo Agus, Alexandra Gottardo , Tike Priyatnakusumah
  • Rating : SEMUA UMUR
  • Rilis 20 Juni 2013

 

info terbaru follow @AleniaPictures

Tambahkan sebuah komentar

Sudah baca yang ini belum ?close